Santo’ – Permainan Tradisional Tergeser Modernisasi

Jaman modern adalah masa dimana permainan seperti Play Station, Game Online, dan anak kecil yang keluar masuk warnet. Permainan tradisional yang dahulu sering dimainkan pada jaman dahulu sudah semakin terlupakan, mereka lebih senang bermain permainan modern lain yang lebih canggih, padahal permainan-permainan itu sebenarnya hanya akan membuat anak menjadi malas bergerak/kurang berolahraga.

 Jika anak-anak modern sekarang ditanya mengenai permainan tradisional seperti baguli’, padende, cangke’, dende, santo, banto’, gebo’-gebo’, boy, enggo jaga, enggo lari, jengkal, lambasena dan sebagian dari mereka pasti tidak tahu. Seperti postingan sebelumnya dimana kita membahas tentang permainan cangke’ yang bisa dijadikan sebagai bacaan untuk sedikit nostalgia kenangan masa kecil kita dan sekaligus untuk melestarikan permainan tradisional anak-anak Makassar, maka kali ini kita akan membahas salah satu permainan tradisional anak Makassar yaitu permainan Santo’.

 Untuk memainkan permainan ini, caranya cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya seperti permainan modern pada umumnya. Sebelum memulai bermain santo’ ada baiknya kita mengetahui syarat dan ketentuan-ketentuan yang mesti dipenuhi untuk memainkan permainan ini misalnya, tempat untuk bermain sebaiknya pada tanah lapang dengan luas minimal 3 X 10 meter, adapun alat yang digunakan dalam permainan ini adalah batu kali dengan ukuran kira-kira sebesar kepalan tangan dengan bentuk pipih, jumlah pemainnya minimal sebanyak 2 orang atau lebih yang dibagi menjadi dua grup yang sama banyak.

santo'

Permainan dimulai menentukan grup mana yang lebih dulu memulai permainan (Amba’) dengan cara melakukan pengundian dengan uang logam atau dengan cara pus (suit dengan jari/gunting, batu, kertas).

 Setelah ditemukan grup mana yang memulai permainan terlebih dahulu (Amba’), maka grup yang tidak Amba’ harus menyusun batu diwilayah batu santo’ sebagai sasaran bagi grup yang Amba’. Grup yang Amba’ melemparkan batu dari wilayah tempat awal melempar batu utama (Pangamba’). Daerah yang paling strategis untuk menempatkan batu Pangamba’ adalah daerah pada wilayah antara dua garis buta (Picco’) karena dekat dengan batu sasaran.

 Jika ada salah seorang anggota dari grup yang sedang Amba’ mengenai garis picco’ atau berada dalam wilayah garis tersebut maka ketika anggota grup tersebut akan melemparkan batu Pangamba’ ke batu Santo’ (batu sasaran) maka mata dari pemain itu akan ditutup ketika melemparkan batu Pangamba’ kesasaran sesuai dengan tempat batu Pangamba’nya mendarat, jika batu Pangamba’ mendarat diwilayah garis Picco’ 1 maka salah satu matanya harus ditutup, jika batu Pangamba’ mendarat diwilayah garis Picco’ 2 maka kedua matanya harus ditutup.

 Jika salah satu anggota grup yang Amba’ melempar batu melewati garis picco’ 2 maka dikenakan denda dengan cara menolak batu Pangamba’ tersebut dengan tumit sejauh mungkin menjauhi batu sasaran.

 Amba’ dalam permainan ini ada dua macam yaitu Amba’ duduk dengan cara batu Pangamba’ dilempar melalui celah antara bawah paha dengan betis sambil berjongkok. Amba’ yang kedua adalah Amba’ berdiri dilakukan dengan cara melempar batu dengan cara berdiri.

 Permainan ini dilakukan dalam beberapa ronde secara bergantian biasanya 5 sampai 10 ronde. Dalam 1 ronde dapat langsung dimenangkan oleh grup yang Amba’ jika grup tersebut dapat langsung mengenai batu sasaran dengan lemparan dari garis awal melempar.

 Jika pemain dari grup yang Amba’ tidak dapat mengenai batu sasaran langsung dari garis awal melempar, maka dilanjutkan dengan Dende. Dende dalam permainan ini ada dua cara yaitu dende dekat (dilakukan digaris Picco’ 2 dan dende jauh (dilakukan pada garis awal melempar). Dende dilakukan dengan cara menempatkan batu Pangamba’ diatas punggung kaki kemudian melompat menggunakan kaki yang satunya mendekati garis Picco’ 2 kemudian melemparkan batu Pangamba’ tersebut dengan punggung kaki ke batu sasaran. Jika batu Pangamba’ dari pemain tersebut tidak berhasil mengenai batu sasaran maka pemain tersebut dinyatakan gagal. Bila semua anggota grup yang Amba’ gagal, maka ronde tersebut dimenangkan oleh pemain lawan (grup yang tidak Amba’), kemudian bertukar grup untuk memainkan ronde dua, begitu seterusnya hingga keseluruhan ronde yang telah ditentukan sudah habis.

 Pemenang dari permainan ini ditentukan dengan banyaknya jumlah ronde yang dimenangi oleh setiap grup. yang terbanyak memenangkan ronde maka grup itulah pemenangnya. Biasanya grup yang memenangkan permainan ini akan mendapatkan hadiah berupa Didengnge’ (digendong dengan punggung) oleh grup yang kalah. dengan jarak sejauh 5 kali jarak bolak-balik dari tempat awal melempar batu Pangamba’ (garis awal melempar) hingga ketempat penyusunan batu santo’ (batu sasaran).

Adv

2 Komentar pada “Santo’ – Permainan Tradisional Tergeser Modernisasi”

  1. Kurnia Sari

    07 Sep 2015

    Hahahaha permainan anak tahun 90, makanya mereka pada sehat, tidak seperti sekarang,… Keep posting gan

    Balas komentar ini
    • Sulengka.com

      07 Sep 2015

      Thanks… tapi memang tawwa, permainan dulu selain menlatih ketangkasan juga menguji cara berfikir.. tidak seperti sekarang, teknologi semua dipake…

      Balas komentar ini

Masukkan Komentar