Pong Tiku, Pahlawan Nasional dari Toraja

Pongtiku adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Pong Tiku sering juga dipanggil Nene Baso adalah pahlawan nasional yang berjuang melawan penjajahan kolonialisme Belanda di Toraja. Beliau lahir di Rindingallo Rantepao, Tana Toraja pada tahun 1846. Ayahnya Siambo ‘Karaeng sebagai penguasa adat di Pangala’ Diantara enam bersaudara, Pongtiku mewarisi sifat ayahnya sebagai pemimpin dan pejuang.

Pongtiku mulai terkenal ketika memimpin dalam perang saudara antara Pangala dan Baruppu.

Dalam pertempuran biasanya Pangala terpukul mundur kali ini Pongtiku berhasil memukul mundur pasukan Pangala. Dan sekaligus menjadikan Baruppu sebagai wilayah kekuasannya.

Tidak puas, Pongtiku memperluas wilayah kekuasannya dengan menggalang penguasa adat di Toraja. Pongtiku untuk memperluas wilayah kekuasannya dengan membangun 7 benteng pertahanan: 1.Lalilondong, 2.Buntu Batu, 3.Rindingallo, 4.Buntu Asu, 5.Tondok 6.Ka’do dan 7.Mammulu.

Tentara Belanda pertama kali datang ke Toraja pada akhir tahun 1905. Pongtiku dan Pong Maramba beberapa Raja2 Bugis lainnya mengadakan pertemuan rahasia di Rantepao untuk menyusun startegi menghadapi Belanda. Januari 1906 perang dgn Belanda berkecamuk, Februari 1906 Toraja di gempur. Waktu itu Panglima perang Belanda Kapten Kiliang mengumumkan agar Pongtiku mengakui kedatangan belanda. Seruan Kiliang itu ditolak mentah mentah oleh Pongtiku & malah membalas dengan kata kata “Satu kali lahir satu kali mati”. Mendengar jawaban Pongtiku itu Belanda naik pitam dan terjadi pertempuran seru, korban berjatuhan diantara kedua belah pihak. April 1906 Pongtiku kembali melakukan perang gerilya dan melakukan sabotase.

Ranjau di tebar di setiap jalan yang sering dilalui Belanda. Tanggal 26 Juni 1906 Belanda menyerang lagi Toraja Sirera salah seorang pemimpin pasukan Toraja. Dengan kekuatan kekuatan 200 orang melakukan penyerangan terhadap Belanda. Terjadi lagi pertempuran seru. Dalam pertempuran 6 orang pasukan Pongtiku tewas. Pasukan Belanda yang tewas hampir tak terhitung banyaknya. Belanda tambah marah tanggal 27 Juni 1906 Belanda menyerang lagi Toraja. Pasukan Pongtiku yg bertahan dalam benteng dilengkapi dgn alat penolak tangga & “Tirrik Lada” ( Alat semprot mata berisi air cabe). Terjadi lagi pertempuran seru di Benteng Lalilondong, korban dipihak Pongtiku 9 orang meninggal, 40 luka di pihak Belanda 6 orang tewas dan beberapa orang lainnya luka. Tanggal 30 Juni 1906 Belanda mengutus Tandibua agar Pongtiku mau berunding ternyata ajakan itu ditolak. Bahkan ia melakukan serangan gencar tanggal 17 Oktober 1906, Benteng Bambapuang jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu Belanda mengalihkan perhatiannya merebut Benteng Ka’do Buntu Asu dan Benteng Mammullu. Pasukan Pongtiku di perkuat dengan kedatangan pasukan dari #Bugis dengan membawa dua meriam ke Benteng Buntu Batu. Agustus 1906 Belanda gencarkan serangan, beberapa benteng lainnya direbut satu persatu.

Belanda tahu, antara Pongtiku &kemenakannya Tandi Banna sangat akrab. Tandi Banna diperalat membujuk Pongtiku agar mau berunding dengannya. Setelah memasuki benteng, belanda tiba tiba menyerang. Akhirnya Pongtiku ditawan bersama 60 orang pasukannya.

Sekalipun perlawanan Pong Tiku dan kawan-kawan sangat heroik, Belanda kemudian menang melalui tipu muslihat yang berakhir dengan eksekusi Pong Tiku di tepi sungai di Sa’dan, Rantepao pada tahun 1907.

Pongtiku Meninggal pada Rabu Pon, 10 Juli 1907 pada usia 61 tahun (1846 – 1907) di Sungai Sadan, Singki Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan

Lokasi Makam/Monumen :
Kecamatan Rinding Allo kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

pongtiku1

Sekarang di atas tempat dihukum matinya Pong Tiku (terletak di Jalan Benteng Batu Rantepao) dibangun sebuah tugu peringatan/prasasti yang menceritakan perjuangan Pong Tiku berikut kutipan prasasti itu:

“Ia gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa membela tanah air dari cengkraman penjajah.”

PAHLAWAN PONGTIKU

1850 :Pongtiku lahir di Rindingallo

1906 Maret : Belanda datang ke Toraja

1906 Maret :Belanda menduduki Rantepao, Belanda mengirim ultimatum supaya pongtiku menyerah, Pongtiku membalas “lebih baik mati daripada menyerah” / “Satu kali lahir satu kali mati”.

1906 April :Pertempuran di Tondon Pangala’

1906 Juni:Pertempuran di Benteng Lali’ Londong

1906 Juni:Permintaan Belanda berunding ditolak

1906 Juli:Pertempuran di Benteng-Benteng Buntu Asu Ka’do dan Tondok

1906 Agustus:Pertempuran di Benteng Rindingallo

1906 Oktober:Gencatan Senjata

1906 November:Belanda dengan siasat liciknya melucuti semua senjata pasukan Pongtiku

1907 Januari:Pongtiku dengan pasukan menggabung dengan pasukan Bombing di Alla

1907 Maret:Benteng Alla jatuh, Pongtiku kembali ke Pangala’

1907 Juni 30:Pongtiku ditangkap dan ditahan di Rantepao

1907 Juli 10:Pongtiku ditembak mati di tempat di tepi sungai Sa’dan

Adv

Belum ada komentar.

Masukkan Komentar