Menguak kekejaman Westerling (korban 40.000 jiwa)

Kapten Westerling telah meninggalkan luka mendalam bagi Indonesia. Ratusan atau bahkan ribuan nyawa pribumi tewas karena kekejamannya.

Maka, pada tahun 1980-an, pemerintah beberapa kali berusaha mengekstradisi Westerling ke Indonesia. Sayang, usaha itu tidak pernah terwujud sampai yang bersangkutan meninggal tahun 1987 dalam usia 68 tahun di Purmerend, Belanda. Buku ini hadir, salah satunya, untuk mengisahkan perseteruan Westerling dengan Soekarno.

Kapten Belanda yang memiliki sikap antipati terhadap Soekarno ini sangat bengis terhadap pribumi. Pria bernama asli Raymond Paul Pierre Westerling ini lahir di Istanbul, 31 Agustus 1919. Dia berayah Belanda dan ibu Turki. Sejak usia 5 tahun, Westerling tinggal di panti asuhan. Westerling tersohor sebagai kapten Belanda terkejam dengan cara-cara Gestapo.

Kekejamannya mulai dari Makassar sampai Kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang sekitar Desember 1946–Februari 1947. Korban terbanyak di Galung Lombok, Kabupaten Barru (halaman 112). Untuk mengenang sejarah kelam itu, dibangun tugu di Makassar yang disebut monumen korban 40.000 jiwa. Aktivis HAM Belanda juga menuding Westerling sebagai manusia kejam.

monumen korban 40 ribu jiwa

Eks anak buahnya menceritakan Westerling tidak menghargai hidup. Ia sering membiarkan tahanan di sel berhari-hari tanpa makanan. Seorang perwira Inggris, J Dancey, juga bercerita, “Suatu pagi saya mendatangi Westerling untuk minum dan mengobrol bersama. Tiba-tiba dengan tenang dia mengambil potongan kepala dari keranjang sampah di samping meja kerja. Katanya, itu potongan kepala dari pemimpin pemberontak yang baru saja dia penggal.” Westerling seakan-akan ingin mengajari perwira Inggris itu, “Begini lho caranya kalau mau menumpas pemberontakan”

Harian De Waarheid di Belanda juga menurunkan berita serupa pada bulan Juli tahun 1947. Isinya tentang kekejaman Westerling yang dinilai sama dengan kekejaman pasukan Jerman di PD II. Kemudian, harian Vrij Nederland, pada Juli 1947, memerinci kekejaman Westerling. Ironisnya, Westerling bebas dari jeratan hukum. Ia memang dipecat dari jabatannya setelah membantai penduduk Sulawesi Selatan.

Tetapi, justru ia berhasil mengumpulkan 500.000 pengikut dan mendirikan organisasi rahasia bernama Ratu Adil Persatuan Indonesia (RAPI) plus dilengkapi kesatuan bersenjata Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Lewat organisasi itu, ia berhasrat menggulingkan (kudeta) Soekarno dari tampuk kepemimpinan. Pada tahun 1950, Westerling bekerja sama dengan Darul Islam Jawa Barat mengadakan kudeta lewat peristiwa “Kudeta 23 Januari” .

Setelah gagal kudeta, Westerling ditanya kenapa tidak menembak Soekarno. Dia menjawab, “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen, sedangkan harga Soekarno tak lebih dari 5 sen. Jadi rugi 30 sen. Ini kerugian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.” Westerling ingin menghina bahwa pelurunya lebih mahal dari nyawa Soekarno (halaman 103). Kontan, masyarakat Indonesia geram atas penghinaan itu.

Kudeta Westerling berhasil digagalkan TNI. Kudeta gagal karena desersi anak buah Westerling sendiri. Selain itu, pemerintah dan militer Belanda tidak pernah mendukung. Untuk itu, sebagian warga Belanda mendesak Pemerintah Belanda untuk meminta maaf kepada rakyat Indonesia atas kejahatan perang masa lalu. Para sejarawan dan pers Belanda telah menemukan bukti-bukti kejahatan dan pelanggaran HAM agresi militer Belanda terhadap Indonesia.

Pengakuan salah seorang keluarga korban : “Ayah dan Dua Kakak Saya Dibantai Westerling”

Atas nama “penumpasan pemberontakan”, pasukan Depot Speciale Troepen yang dipimpin Kapten Raymond Pierre Paul Westerling menyisir desa-desa di Sulawesi Selatan. Hanya sekitar tiga bulan, Desember 1946-Februari 1947, ribuan nyawa melayang dan darah tertumpah di sana.

Termasuk keluarga sejarawan, Anhar Gonggong. “Ayah saya dibunuh bersama dua kakak saya. Satu kakak dikubur bersama ayah, yang lain di kota berbeda, Pare-pare.

Ayahnya, Andi Pananrangi adalah mantan raja di kerajaan kecil di Sulawesi Selatan, Alitta. Ia memang sudah lama jadi incaran Belanda, dicap sebagai musuh.

Kala itu, Anhar baru berusia 3 tahun. “Saya anak bungsu, tidak melihat kejadian itu. Ibu saya juga tak melihat, saat itu kami mengungsi setelah ayah ditangkap,” kata dia.

Itu baru keluarga intinya.”Paman saya, sepupu juga dibantai. Kalau dihitung secara keseluruhan di lingkungan keluarga dekat, ayah, kakak, paman, sepupu, mungkin sampai 20-an orang,” kata dia.

Tragedi pembunuhan 40.000 rakyat di Sulawesi Selatan oleh pasukan Belanda kembali mencuat ke permukaan, setelah 10 keluarga korban Westerling melayangkan tuntutan ke Pemerintah Belanda. Selain menuntut kata maaf, mereka juga menuntut kompensasi dari Negeri Kincir Angin.

Anhar Gonggong tidak termasuk dalam daftar nama penggugat. “Jujur, saya tidak setuju dengan gugatan itu. Harga nyawa ayah dan dua kakak saya tidak ternilai dengan uang, miliaran sekalipun. Mereka berjuang demi kemerdekaan, keluarga kami tidak butuh uang kolonial,” tegas dia.

Maaf dari Belanda juga bukan sesuatu yang diharapkan Anhar. “Apakah dengan maaf Belanda lantas ayah saya hidup lagi?,” kata dia. Tak hanya nyawa, pasukan Belanda juga membakar rumah dan menghabisi harta bendanya.

Anhar juga mengingatkan, dalam keputusan Pengadilan Den Haag, Belanda pada kasus Rawagede 9 Desember 1947, disebut bahwa Pemerintah Belanda “telah membunuhi rakyatnya sendiri”. “Itu artinya Belanda tidak mengakui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dia minta maaf, mengakui pelanggaran di wilayah Kerajaan Belanda. Diakui sebagai jajahan, padahal kita berjuang untuk merdeka,” tambah dia.

Apalagi, kekejaman yang dilakukan Westerling dan pasukannya tidak bisa dimaafkan. Dari keterangan kakaknya, Andi Selle, Anhar mendapat gambaran faktual soal situasi kala itu. Penduduk dipaksa menggali lubang dalam, kemudian mereka dipaksa duduk di tepi lubang, ada 30 orang, 40 orang, bahkan sampai 100-an orang.

Lalu, para serdadu menanyai mereka, “mana Andi Selle, mana Andi Matalatta,” satu-persatu keberadaan nama pejuang ditanyakan. Jika tak menjawab, mereka ditembak, jenazahnya tersungkur masuk lubang. “Bahkan perempuan ada yang ditusuk dengan sangkur. Kejamnya Westerling tak bisa dihapus dengan maaf, nggak ada itu.”

Soal pastinya jumlah korban Westerling memang belum diketahui. Pihak Indonesia menyebut 40 ribu orang tewas dibantai, meski versi  Belanda menyebut angka sekitar 3.000. Sedangkan Westerling mengaku, korban ‘hanya’ 600 orang.

Anhar yakin, kalaupun tak sampai 40.000 orang, jumlah korban di atas 20.000. Di Kariano, ibu kota kerajaan ayahnya, yang kini menjadi kampung, kakak Anhar pernah mendata jumlah korban pembantaian Westerling pada tahun 1972. “Di Kariano saja yang kecil ada 700 orang tewas, dia catat namanya, tempat dibunuh. Padahal jarak dari Makassar sampai 100 kilometer,” kata dia.

Lama Dilupakan

Yang disayangkan Anhar, tragedi tersebut telah lama dilupakan, oleh pemerintah, bahkan di Sulawesi Selatan. Pembantaian Westerling baru ramai dibicarakan setelah korban Rawagede memenangkan gugatan melawan Pemerintah Belanda.

“Seingat saya tak lagi diperingati sejak tahun 1970-an. Mungkin warga Sulsel malu dikatakan orangnya dibantai. Tapi dia lupa, justru yang jadi pahlawan adalah rakyat kecil yang dibunuh, yang tak mau memberi tahu di mana para pejuang berada. Kematian mereka melindungi pejuang,” kata dia.

“Mempertaruhkan nyawa demi para pejuang. Mereka melawan dalam diam”.

Adv

Belum ada komentar.

Masukkan Komentar