Keunikan Kota Makassar

Dialek (Logat) Makassar

Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan cukup banyak dan sangat berbeda satu sama lain. Diantaranya Bahasa Makassar (Mereka yang asalnya dari Sungguminasa/Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai); lalu Bahasa Bugis (Mereka yang asalnya dari Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Pare-pare, Enrekang, Mamuju, Bone).

Lalu masih ada bahasa Mandar dan bahasa Toraja. Karena itulah maka di kota Makassar sekarang yang dominan justru bukan bahasa-bahasa daerah tetapi satu bahasa yang menyatukan yaitu Bahasa Indonesia dengan logat Makassar. Bahasa ini ditandai dari nada penutur (yang cenderung naik) dan pemakaian partikel-partikel : Ki’ ; Di’ ; Ta’ ; Toh; Tauwwa dan Ji’ (fungsinya hampir seperti ‘lah’ atau ‘kah’ atau ‘deh’ atau ‘kok’). Yang jelas, terdapat kata-kata Melayu (indonesia) yang disesuaikan dialek Makassar, misalnya kata dengan akhiran ‘n’ akan diucapkan ‘ng’ ; Misalnya : “Dinging sekali hawanya di’ “. ( Dingin –> Dinging; Angin –> Anging),

Nah…tapi kebalikannya (okkots)… kata-kata dengan akhiran ‘ng’ justru diucapkan ‘n’ seperti ‘Kari Kambin’ bukan ‘Kari Kambing’. Bagaimanapun gejala seperti ini adalah wajar dalam suatu dialek daerah.

Buat orang luar, tentu nggak sulit memahami Bahasa Dialek Makassar ini karena merupakan Bahasa Melayu, hanya ia diucapkan dengan nada tertentu dan agak cepat. Asal mau mendengarkan dengan cukup seksama pasti bisa ‘nyambung’. Kata-kata asli kadang juga dipakai tergantung lingkungan penuturnya.

Berikut tabel perbandingan beberapa bahasa ternyata terlihat pola bahasa Nusantara yang mirip satu sama lain…

Angka Melayu Bugis Makassar Tagalog Jawa
1 Satu Si’di Se’re Isa Siji
2 Dua Dua Rua Dalawa Loro
3 Tiga Tellu Tallu Tatlu Telu
4 Empat Eppa’ Appa’ Apat Papat
5 Lima Lima Lima Lima Limo
6 Enam Enneng Annang Anim Enem
7 Tujuh Pitu Tujuh Pito Pitu
8 Delapan Arua Sangang Tujuh Walo Wolu
9 Sembilan Asera Salapang Sam Sanga
10 Sepuluh Seppulo Sampuloh Sampuk Sepuloh
11 Sebelas Seppulo Si’di Sampuloh Se’re Isampuk

Sewelas

50 Limapuluh Limapulo Limangpuloh Limpapung Seket
100 Seratus Siratuu Sibilangang Satus
500 Limaratus Limaratuu Limangbilangang Limangatus
1000 Seribu Sisebbu Sisabbu Sewu
10,000 Sepuluh Ribu Seppulo Sebbu Sampuloh Sabbu Sepulohewu

 

Yang Beda Dari Makassar

Mengunjungi suatu kota berarti kita akan menjumpai sesuatu yang beda dengan kota dimana kita tinggal. Gaya bicara, dialek, bahasa, makanan, nama jalan, sampai sesuatu yang pasti kita cari-cari buat orang rumah: cinderamata alias oleh-oleh!

 

-       Makanannya

Di Makassar ada Nasi Kuning, salah satu menu buat sarapan (cukup lazim di sini…sama seperti di Bandung. Padahal di Jakarta atau Jawa Tengah/Timur nasi kuning hanya akan dihidangkan jika kita mengadakan syukuran). Rasa? Yupp! Sangat beda… nasi kuning Makassar ditambah beberapa rempah2 yang lebih kuat aromanya. Sepintas malahan seperti Nasi Briyani atau Kebuli.

Nah…jika di Jakarta (Jawa) kita makan bakso dengan variannya saat setengah lapar, Makassar punya ‘Nyuk-nyang’. Bedanya sih Nyuk-nyang nggak disantap dengan mie, tetapi –jika mau- kita boleh makan dengan ‘buras’ (yaitu Beras yang ditanak dengan santan hingga setengah matang, lalu dibungkus dengan daun pisang menyerupai ‘lepat’ dan dikukus hingga matang). Buras juga biasa mengganti nasi untuk makan coto dan makanan berkuah lain. Jadi nggak heran tiap masuk rumah makan pasti tersedia di meja buras bersanding dengan Kerupuk dan botol2 kecap/sambal.

Es Teler juga beda, dari segi bahan-bahannya maupun penampilannya. Di Jawa, ia adalah campuran alpokat, nangka, susu dan terutama durian plus es tentu. Tetapi yang sangat terasa beda di Makassar es Teler disajikan dengan tambahan kacang dan gula jawa yang dilelehkan. Hmm….enak……

Warung Kopi/Warkop (bukan Kafe)… Di Makassar sangat banyak, di Jawa nggak lazim warung kopi kan ? Nah warung kopi ini tempat masyarakat Makassar ngobrol2 dengan ditemani segelas Kopi, Kopi Susu atau Teh Susu. Very strong coffee indeed! Jadi emang warungnya tidak menyediakan makanan2 yang berat, paling2 kue, bakpao atau lemper (isi daging ikan bro! bukan daging ayam…ya maklum hasil laut melimpah!), dan menu utama memang kopi!

 

-       Nama jalan

Memang, jalan dengan nama standar (Pahlawan Nasional) ada juga di Makassar, seperti Slamet Riyadi, Ahmad Yani, Gatot Subroto, Diponegoro, dan Teuku Umar. Tapi nama-nama tokoh lokal pun sangat banyak dipakai. Misalnya Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Sultan Alauddin, Jalan Andi Pangerang Pettarani (tokoh Bugis), Jalan Datu Museng (Raja Bugis) atau Jalan Abdullah Daeng Sirua. Juga dipakai nama geografis seperti Jalan Gunung Bawakaraeng dan Jalan Sungai Saddang.

 

-       Bahasa & Dialek

Meski bahasa Melayu/Indonesia dialek Makassar dipakai dalam percakapan sehari-hari di Makassar, tetapi kita tetap harus ekstra keras memahaminya. Masalahnya adalah bahasa ini dituturkan dengan partikel-partikel tertentu, dengan unsur2 bahasa Bugis/Makassar yang diserap dan dicakapkan secara cepat.

Dii’

Dipakai untuk meminta dukungan atau penegasan (seperti ‘kan’) “Iyo dii’? atau “Iye dii’?”
Toh/ Ko Juga Dipakai untuk meminta dukungan atau penegasan (seperti ‘kan’) “Sudah sampai toh?”
Kii’ Dipakai untuk akhir pertanyaan (seperti ‘kah’) “Ngapa kii’ ?” atau ( “Kenapa kii’ ?”)
Mii Memastikan sesuatu “Sudah mii” atau “Cepat mii”
Ta’ kependekan ‘Kita’ tetapi dipakai untuk menyatakan secara halus sesuatu merupakan milik bersama Guru ta’ (ustaz kita); Tivi ta’ (televisi kita semua)
Tawwa Partikel penegas (seperti ‘ya kan?) Di Makassar tawwa?

Beberapa bahasa Bugis/Makassar yang diserap, misalnya ‘Nyamanna’ artinya ‘Lezatnya’; ‘Ewako’ (jangan takut); Bau’na (harumnya! Jadi jangan bilang “ih..baunya” saat kita mencium bau nggak sedap, karena bau’=harum; sedangkan bau nggak enak=botto’).

 

-       Becak & Alat transport umum

Becak Makassar sangat simple. Tanpa hiasan dan apa adanya. Wujudnya seperti becak Jawa/Palembang, yaitu Abang Becak (Daeng) mengayuh di belakang, dan penumpang duduk di depan. Lalu ada juga ‘Pete-pete’ (heh..bukan petai yang bisa dimakan!) ini adalah panggilan buat ‘angkutan kota’ alias ‘angkot’. Jadi, kalo mau keliling Makassar cari aja pete-pete : Murah dan meriah!

 

-       Oleh-oleh

Sirup Markisa, Minyak Tawon, Kacang Mede, Kacang Disco, Sutera/Sarung Bugis, Abon Ikan Cakalang, Dendeng, Ikan Asin, Ikan Asap, Ukiran dan Souvenir Toraja. Pusat oleh-oleh ada di Pasar Somba Oppu di jalan somba opu.

 

-       Tempat pelancongan

Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam), Istana Raja Gowa (Balla’ Lompoa – rumah besar), Makam Syekh Yusuf, Pantai Losari, Pulau Khayangan, Benteng Somba Opu (ini tempat yang bagus buat melihat jenis2 rumah panggung se-Propinsi Sulawesi Selatan), Gua Bantimurung.

Adv

4 Komentar pada “Keunikan Kota Makassar”

  1. dahlan

    07 Sep 2015

    Bahasa & Dialek

    Msukkan admin, mungkin kelupaan,. ji’ juga bagian dari dialek,.. anukuji,.. hehehehe

    Balas komentar ini
  2. Tajuddin

    07 Sep 2015

    Informassi keren,.. mari promosikan makassar di dunia admin,..

    Balas komentar ini

Masukkan Komentar